Respons Cepat Serta Pendekatan Humanis dari Satintelkam Polresta Barelang Akhiri Keresahan Orang Tua, Distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Kristen Basic Kembali Layak Konsumsi untuk Siswa
Batam – Polemik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batam akhirnya mendapat titik terang setelah aparat kepolisian turun langsung ke lapangan. Program nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah itu sempat menjadi sorotan publik setelah viralnya pemberian makanan kering kepada siswa di Sekolah Kristen Basic, Batam Center, selama bulan Ramadan.
Persoalan tersebut mencuat ke ruang publik usai adanya protes yang disampaikan melalui pemberitaan media. Kritik tersebut mendapat perhatian serius dari jajaran Polresta Barelang khususnya Kasat Intelkam Polresta Barelang Kompol Yudiarta Rustam, A.Md., S.S., M.M.
dan Kanit 2 Satintelkam Ipda Dede Hermawan
Aparat bergerak cepat dengan menurunkan langsung petugas ke lokasi untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar.
Kanit 2 Satintelkam Polresta Barelang, Ipda Dede Hermawan, memastikan bahwa mulai hari Senin 2 Maret 2026 pendistribusian makanan MBG di sekolah tersebut kembali sesuai ketentuan, yakni berupa nasi lengkap dengan lauk-pauk, sebagaimana standar makanan bergizi yang telah ditetapkan pemerintah.
“Atas atensi dan respon cepat dari jajaran Polresta Barelang, khususnya Kasat Intelkam dan Kanit 2 Satintelkam, kami para orang tua murid Sekolah Kristen Basic menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya. anak-anak kembali menerima makanan seperti biasa, nasi dan lauk-pauk,” ungkap tokoh masyarakat Indonesia Timur di Kota Batam, Moody Arnold Timisela, Senin 2 Maret 2026.

Lebih lanjut, Moody Arnold Timisela menuturkan bahwa perhatian cepat dari aparat kepolisian menjadi bukti nyata hadirnya negara dalam melindungi hak-hak dasar anak, khususnya hak untuk mendapatkan asupan gizi yang layak. Menurutnya, langkah sigap tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga memulihkan rasa keadilan dan kepercayaan para orang tua murid terhadap program pemerintah yang sejatinya sangat mulia.
Ia mengungkapkan, bagi para orang tua, makanan yang diterima anak-anak bukan sekadar soal kenyang, melainkan wujud kepedulian terhadap masa depan generasi. “Ketika anak-anak kembali tersenyum dan bisa makan dengan layak di sekolah, di situlah hati orang tua menjadi tenang. Ini bukan hanya soal menu, tapi tentang perhatian, empati, dan tanggung jawab bersama,” ujarnya
Moody berharap, kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pengelola dapur MBG di Kota Batam agar lebih mengedepankan kualitas, kebersihan, dan nilai gizi makanan. Ia juga mengajak semua pihak untuk saling mengawasi dan mengingatkan, demi memastikan program Makan Bergizi Gratis benar-benar menjadi berkah bagi anak-anak, bukan sekadar formalitas yang kehilangan makna.
Ia menekankan agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan meminta seluruh dapur MBG yang beroperasi di Kota Batam senantiasa mendapat pengawasan serius dari aparat kepolisian maupun instansi terkait. Hal ini dinilai penting untuk menjaga mutu, kebersihan, dan nilai gizi makanan yang dikonsumsi para siswa.
Sebelumnya, tokoh masyarakat Indonesia Timur di Kota Batam, Moody Arnold Timisela, menyampaikan kegelisahan mendalam atas pelaksanaan program MBG di Pulau Batam khusunya di sekolah Kristen Basik. Ia menegaskan bahwa program yang digagas Presiden Prabowo Subianto merupakan kebijakan mulia dan strategis untuk menjamin masa depan generasi bangsa, namun berpotensi tercoreng bila tidak dilaksanakan sesuai standar.
“Ini bulan puasa, kami paham. Tapi puasa tidak boleh dijadikan alasan untuk menurunkan kualitas gizi anak-anak,” tegas Moody pada Kamis (26/2/2026).
Ia menyoroti adanya ketimpangan pelaksanaan MBG antar sekolah. Di Sekolah Kristen Basic Batam Center, para siswa justru menerima paket makanan kering yang dinilai minim nilai gizi. Moody bahkan mengaku melihat langsung isi paket tersebut setelah cucunya membawa pulang makanan MBG karena tidak dimakan di sekolah.
“Isinya hanya satu potong roti kecil, satu buah salak, satu kerupuk mirip emping, dan satu cup puding kecil. Lebih memprihatinkan, pudingnya berminyak. Ini bukan sekadar soal selera anak, tapi menyangkut kebersihan dapur dan keamanan pangan,” ujarnya.
Menurut Moody, jika dihitung secara rasional, nilai makanan tersebut bahkan diperkirakan tidak mencapai Rp5.000. Ia pun mempertanyakan peran ahli gizi dan pengelola dapur MBG di Batam. “Ini program negara, bukan program coba-coba. Jangan sampai ada pihak yang lebih mementingkan keuntungan dibanding tanggung jawab gizi anak-anak,” katanya.
Dengan adanya tindak lanjut cepat dari kepolisian Satintelkam Polresta Barelang, masyarakat berharap polemik serupa tidak kembali terjadi. Program MBG diharapkan dapat dijalankan secara adil, layak, dan bermartabat, sesuai dengan tujuan awalnya untuk mencetak generasi sehat dan berkualitas.
