Merajut Kebersamaan di Tengah Keberagaman, Harmoni Cap Go Meh dan Buka Puasa Bersama INTI Kepri Hadirkan Pesan Toleransi Beragama dan Motivasi Hidup dari Dato Amat Tantoso untuk Ratusan Anak Panti
Keprinsight – Harmoni Malam Cap Go Meh dan Buka Puasa Bersama yang digelar Perkumpulan Indonesia Tionghoa (INTI) Kepri menjadi simbol kuat perpaduan dua momentum besar penutup rangkaian Tahun Baru Imlek dan hadirnya bulan suci Ramadan. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial, tetapi menjelma sebagai ruang perjumpaan nilai, tempat toleransi, kemanusiaan, dan kebersamaan lintas iman dirawat secara nyata di tengah masyarakat Batam.

Kegiatan yang berlangsung di halaman Masjid Muhammad Cheng Ho Bengkong, pada Selasa 3 Maret 2026, tersebut dihadiri ratusan anak panti asuhan dari berbagai latar belakang. Suasana penuh kehangatan terasa sejak awal acara, mencerminkan wajah Batam sebagai kota yang tumbuh dari keberagaman, namun tetap kokoh dalam semangat persaudaraan dan saling menghormati.
Momentum kebersamaan ini semakin bermakna ketika Dewan Penasihat INTI Kepri, Dato Amat Tantoso, menyampaikan motivasi kehidupan yang menyentuh. Di hadapan ratusan anak panti asuhan, ia berbagi kisah perjalanan hidupnya sebagai perantau yang memulai segalanya dari keterbatasan. Dengan bahasa sederhana, ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang sarat kerja keras, disiplin, dan doa.
Dato Amat Tantoso mengisahkan bahwa dirinya datang merantau ke Batam dengan modal yang sangat minim yaitu uang Rp.500 ribu, namun dibekali keyakinan kuat untuk mengubah nasib. Ia menekankan bahwa usaha tanpa tujuan ibarat kendaraan tanpa pengemudi. Karena itu, anak-anak didorong untuk mulai memiliki cita-cita dan target hidup sejak dini.
“Apa pun yang adik-adik impikan menjadi pengusaha, pemimpin, atau profesional semuanya harus dimulai dengan tujuan yang jelas dan kemauan untuk berproses,” pesannya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan sebagai kunci membuka masa depan. Menurutnya, tantangan zaman terus berubah sehingga generasi muda harus mempersiapkan diri lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu pendidikan setara SMA dianggap cukup, kini hal tersebut tidak lagi memadai. Anak-anak diminta untuk terus belajar, berani bermimpi besar hingga menyelesaikan sarjana, dan tidak mudah menyerah pada keadaan.
Lebih jauh, Dato Amat Tantoso menegaskan bahwa toleransi beragama merupakan fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menyampaikan bahwa perbedaan keyakinan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus dirawat.
“Kita boleh berbeda cara berdoa, berbeda rumah ibadah, tetapi tujuan kita sama, menjadi manusia yang baik dan berguna bagi sesama,” ujarnya.
Menurutnya, keharmonisan hanya bisa tercipta jika setiap orang mampu saling menghormati dan menjaga perasaan satu sama lain. Ia mencontohkan Harmoni Cap Go Meh dan Buka Puasa Bersama ini sebagai bukti bahwa nilai-nilai keagamaan dapat berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan. Perayaan budaya dan ibadah keagamaan, katanya, justru dapat saling menguatkan jika dilandasi niat baik dan rasa persaudaraan.
Kepada anak-anak panti, ia berpesan agar kelak tumbuh menjadi generasi yang menjunjung tinggi toleransi dan persatuan ditengah masyarakat. Di mana pun mereka berada nanti baik di dunia usaha, pemerintahan, maupun lingkungan sosial nilai saling menghormati harus menjadi pegangan utama.
“Indonesia ini besar karena keberagamannya. Jika sejak kecil kita sudah belajar hidup rukun, maka masa depan bangsa akan jauh lebih kuat dan damai,” tuturnya penuh harap.
Melalui kegiatan ini, INTI Kepri kembali menegaskan perannya sebagai jembatan kebudayaan dan kemanusiaan. Tidak hanya merawat tradisi leluhur, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian sosial dan toleransi beragama secara konkret. Harmoni Malam Cap Go Meh dan Buka Puasa Bersama pun menjadi pesan kuat bahwa Batam dan Indonesia memiliki modal sosial yang besar untuk terus melangkah bersama dalam damai, saling menghormati, dan menumbuhkan harapan bagi generasi masa depan.
